Pringsewu, 5/10/2026— Institut Bakti Nusantara (IBN) bersama Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) dan Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI) menghadiri paparan Kepala LLDIKTI Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., terkait penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung program “Diktisaintek Berdampak untuk Swasembada Pangan: Kawasan Pertanian Modern Terintegrasi Berbasis Koperasi.”
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam mendorong pembentukan konsorsium perguruan tinggi yang diarahkan untuk melakukan pembinaan dan pendampingan koperasi serta masyarakat dalam pengembangan kawasan pertanian modern. Kolaborasi perguruan tinggi diharapkan mampu mengintegrasikan penelitian, inovasi teknologi, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan data untuk mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian.

Dalam paparannya, Kepala LLDIKTI Wilayah II Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc. menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi secara nyata dalam mendukung agenda swasembada pangan. Perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan kajian akademik, tetapi juga perlu menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan dampak langsung bagi petani, koperasi, serta masyarakat.
Program tersebut dikembangkan melalui lima pilar utama, yakni Riset dan Inovasi Pertanian; Pengembangan SDM Pertanian; Teknologi Pertanian dan Digitalisasi; Kesehatan dan Gizi Masyarakat; serta Data, Kebijakan, dan Kapasitas Pemerintah. Kelima pilar menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin sehingga perguruan tinggi dapat berkontribusi sesuai kompetensi dan sumber daya yang dimiliki.

Institut Bakti Nusantara dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Muhamad Muslihudin, M.T.I. Dalam paparannya, IBN menyampaikan kesiapan untuk berkontribusi pada pengembangan pertanian terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan ini diarahkan agar aktivitas pertanian, pengelolaan usaha, pemasaran, hingga pengambilan keputusan dapat didukung oleh teknologi dan data yang terintegrasi.
Salah satu fokus yang disampaikan adalah pengembangan platform berbasis data pertanian. Platform tersebut diharapkan dapat mendukung pencatatan dan pengelolaan data produksi, komoditas, petani dan anggota koperasi, pemasaran, serta informasi lain yang dibutuhkan dalam pengembangan kawasan pertanian. Pemanfaatan data juga menjadi dasar untuk melakukan monitoring, evaluasi, dan penyusunan strategi pengembangan program secara lebih terukur.
Selain aspek teknologi, IBN menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia. Transformasi pertanian modern tidak cukup hanya dengan menghadirkan aplikasi atau perangkat teknologi, tetapi perlu disertai peningkatan literasi digital, kemampuan manajemen, kewirausahaan, pemasaran digital, dan kemampuan petani maupun pengelola koperasi dalam memanfaatkan informasi untuk pengambilan keputusan.
IBN juga mendorong agar program konsorsium dirancang sebagai program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan pendampingan jangka pendek. Pola pendampingan dapat dikembangkan melalui integrasi kegiatan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), keterlibatan dosen dan mahasiswa, pengembangan inovasi tepat guna, pelatihan SDM, hingga evaluasi dampak secara berkala. Dengan demikian, hasil program dapat terus dikembangkan dan direplikasi pada wilayah maupun kelompok masyarakat lainnya.
Rektor UMPRI, Arena Lestari, M.Kep., S.Kep.J., Ph.D., menyampaikan sambutan sekaligus menyambut baik kolaborasi antara LLDIKTI Wilayah II dan perguruan tinggi. Sinergi antarkampus dinilai menjadi modal penting untuk menyatukan berbagai bidang keilmuan dalam menjawab persoalan pangan yang bersifat multidimensional.
Melalui kolaborasi IBN, UAP, dan UMPRI, masing-masing perguruan tinggi dapat mengambil peran sesuai dengan kepakaran yang dimiliki. Kolaborasi lintas program studi diharapkan menghasilkan model pendampingan yang lebih komprehensif, mulai dari teknologi pertanian dan sistem informasi, pengembangan manajemen serta kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas SDM, kesehatan dan gizi masyarakat, hingga pengelolaan data sebagai dasar kebijakan.
Pembentukan konsorsium ini diharapkan menjadi salah satu implementasi nyata konsep Diktisaintek Berdampak, dengan menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah, koperasi, petani, dan masyarakat. Melalui penguatan riset, teknologi digital, kualitas SDM, serta pendampingan yang berkelanjutan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem pertanian modern terintegrasi berbasis koperasi dan memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada pangan nasional.
